Majalah Publik – Agenda prioritas pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di sektor perumahan diyakini akan kembali menempatkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) sebagai ujung tombak dalam program tersebut. Bank BUMN spesialis Kredit Pemilikan Rumah (KPR) ini sudah memainkan peran kunci dalam menyalurkan KPR bersubsidi selama masa pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin melalui program sejuta rumah. Di bawah kepemimpinan Prabowo, program ini akan terus ditingkatkan dengan target ambisius membangun 3 juta rumah per tahun, naik dari 1 juta rumah per tahun pada pemerintahan sebelumnya.
Proyek besar ini diharapkan tidak hanya menekan backlog perumahan, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor perumahan, dengan efek berganda yang luas, dapat menggerakkan berbagai sektor bisnis lainnya. Pemerintah bahkan dikabarkan akan membentuk kementerian khusus yang fokus pada perumahan guna memastikan visi tersebut terwujud.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, menjelaskan bahwa konsistensi BTN dalam menjalankan mandat pemerintah membawa dampak besar pada kinerja keuangannya. BTN telah melayani dua segmen penting, yaitu pengembang perumahan menengah ke bawah dan konsumen dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “Tanpa konsistensi, sulit membayangkan jutaan rumah subsidi bisa terbangun dan terbeli oleh masyarakat kecil,” ujar Piter.
Namun, skema KPR subsidi yang digunakan BTN, berbeda dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR), membuat marjin keuntungan BTN menjadi lebih rendah dibandingkan bank-bank penyalur KUR. “Jika skema subsidi KPR mirip dengan KUR, maka dampaknya pada marjin BTN pasti lebih baik,” tambah Piter.
BTN menghadapi tantangan tambahan dengan naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), yang dipicu oleh kebijakan The Fed untuk memerangi inflasi. Hal ini menekan net interest margin (NIM) BTN, yang sempat berada di bawah 3 persen, karena biaya dana yang lebih tinggi tak serta merta diimbangi oleh kenaikan bunga kredit.
Meski demikian, BTN terus melakukan inovasi di segmen bisnis komersial dan produk high yield loan, yang diperkirakan akan mengembalikan profitabilitas ke level ideal. Kinerja BTN dalam lima tahun terakhir terbilang tumbuh pesat, dengan aset yang mencapai Rp 455,60 triliun pada semester I-2024, naik 26,13 persen dari Rp 361,20 triliun pada tahun 2020.
Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menyebut transformasi dan inovasi sebagai kunci penguatan kinerja perseroan. “BTN tidak hanya memperkuat pembiayaan perumahan, tapi juga memperluas ke bisnis lainnya,” ujar Ramon. Perbaikan ini diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa depan.
BTN juga mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar Rp 3,5 triliun pada semester I-2024, meningkat 118,75 persen dibandingkan dengan laba bersih tahun 2020 yang sebesar Rp 1,6 triliun, menunjukkan keberhasilan dalam menavigasi tantangan dan memanfaatkan peluang di sektor perumahan.





